Jumat, 08 Juni 2012

Sialografi MR


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Penegakan diagnosis penyakit yang terkait dengan kelainan glandula salivarius merupakan dasar untuk menentukan rencana perawatan yang tepat dan rasional dalam rangka mengembalikan fungsi normal glandula salivarius. Diperlukan teknik yang efektif guna mengupayakan hasil diagnosis yang tepat dan akurat. Sialografi, suatu teknik radiografi yang menggunakan media kontras sebagai sarana visualisasi duktus glandula salivarius dipandang sebagai teknik yang tepat untuk mewujudkan keakuratan diagnosis tersebut.
Pelaksanaan sialografi yang membutuhkan beberapa prosedur khusus ternyata menimbulkan masalah tersendiri. Diantaranya adalah adanya efek-efek negatif penggunaan media kontras pada jaringan, timbulnya beberapa efek yang tidak diharapkan karena proses radiasi sinar X, dan beberapa masalah terkait kegagalan pemasangan kanula (kanulasi) yang pada dasarnya memang membutuhkan skill yang tinggi.
Oleh karena itu, dalam perkembangannya, kemudian dikenal teknik sialografi MR (Magnetic Resonance) yang memungkinkan pelaksanaan sialografi tanpa menggunakan kontras media, radiasi, maupun kanulasi. Dalam rangka meningkatkan efektivitas sialografi MR demi didapatkannya sialograf berkualitas tinggi, beberapa modifikasi dilakukan dalam sialografi MR.

1.2  Rumusan Masalah
      Adapun rumusan masalah dalam  makalah kami adalah sebagai berikut:
1.2.1        Apa perbedaan antara sialografi konvensional dengan sialografi MR (Magnetic Resonance Imaging)?
1.2.2        Bagaimana prinsip dari sialografi MR?
1.2.3        Bagaimana modifikasi sialografi MR?

1.3  Tujuan
 Adapun tujuan dari penyusunan makalah adalah sebagai berikut :
1.3.1        Untuk mengetahui perbedaan antara sialografi konvensional dengan sialografi menggunakan MR.
1.3.2        Untuk mengetahui prinsip sialografi MR.
1.3.3        Untuk mengetahui modifikasi-modifikasi sialografi MR.



























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1  Pengertian Sialografi
Sialografi dapat didefinisikan sebagai gambaran radiograf glandula saliva dengan menambahkan media kontras yang radiopak ke dalam sistem duktal pada glandula tersebut (Whaites, 2003).
Sialografi merupakan suatu teknik radiografi yang menghasilkan gambaran radiograf yang paling jelas bagi sistem duktal glandula saliva (White and Pharoah, 2004).

2.2  Indikasi dan Kontraindikasi Penggunaan Sialografi
Indikasi pemakaian sialografi:
-          Untuk mengetahui keberadaan dan posisi calculi atau sumbatan apapun radiodensitasnya, baik radiolusen maupun radiopak.
-          Untuk menilai sejauh mana kerusakan saluran dan glandula saliva yang bersifat sekunder menuju obstruktif.
-          Untuk mengetahui kerusakan glandula yang telah terjadi dan penilaian kasar pada kasus xerostomia.
-          Untuk mengetahui lokasi, ukuran, dan penyebab pembengkakan atau adanya suatu massa. Poin indikasi ini sebenarnya mengalami banyak kontroversi karena ada pendapat bahwa ada perangkat diagnose yang lebih baik daripada sialografi.
(Whaites, 2003)
Sedangkan kontraindikasinya adalah:
-          Infeksi akut
-          Sensitivitas pasien pada bahan yang mengandung iodin
(White and Pharoah, 2004)
-          Ketika pada pemeriksaan radiograf rutin (bukan sialograf) terlihat gambaran calculi dekat dengan pembukaan duktus, maka injeksi bahan kontras akan mendorong calculi tersebut kembali ke duktus utama yang kemungkinan lebih sulit dijangkau.
(Whaites, 2003)
Kontra indikasi di atas dapat ditanggulangi segera dengan thyroid function test (White and Pharoah, 2004).

2.3  Macam-macam sialografi
Macam-macam pemeriksaan radiograf pada glandula saliva:
-          Plain radiographic examination
-          Sialografi konvensional
-          Sialografi intervensional
-          Computed tomography (CT)
-          Radioisotope imaging
-          Flow rate studies
-          Ultrasound
-          Magnetic Resonance (MR)
(Whaites, 2003)

2.4   Sialografi Konvensional
Prinsip sialografi konvensional adalah terdiri dari 3 fase prosedur, yaitu fase preoperatif, pengisian, dan pengosongan. Masing-masing fase dilakukan pengambilan radiograf menggunakan media kontras. Operator harus memiliki pengetahuan yang detail mengenai gambaran normal dan patologis dari glandula saliva (Whaites, 2003).
Tipe media kontras untuk sialografi adalah all iodine-based, yakni semua yang berbasis iodin. Klasifikasinya antara lain:
1.      Ionic aqueous solution, terdiri dari:
-       Diatrizoate (urografin)
-       Metrizoate (triosil)
2.      Non – ionic aqueous solution, terdiri dari:
-       Iohexol (omnipaque)
3.      Oil – based solution, terdiri dari:
-       Iodized oil contohnya: lipiodol
-       Water insoluble organic iodin compounds contohnya: pantopaque
(Whaites, 2003)
Salah satu contoh media kontras adalah Lipiodol. Lipiodol merupakan  lipid based contrast medium, dimana lipiodol memberikan gambaran yang bagus, jelas dan detail dari glandula salivarius, karena lipodol mengandung visksiotas dan konsentrasi iodin yang tinggi. Namun disamping kelebihanya tersebut, lipodol juga mempunyai kekurangan yakni lipiodol  dapat meninggalkan sisa di glandula salivarius yang lama kelamaan bisa menyebabkan iritasi  dan teresorbsi dalam waktu yang lama yakni sekitar  70 bulan. Lipiodol intoleran terhadap pasien penderita Sjogren’s syndrome.
Efek dari pengisian lipiodol yang meninggalkan sisa di glandula salivarius akibat overfilling anatara lain: dapat menyebabkan kerusakan dari jaringan parenkima, inflamasi kronik, dan lipogranuloma, oleh sebab itu banyak para ahli  yang tidak merekomendasikan pemakaian lipiodol sebagai media kontras sekalipun lipiodol memberikan gambaran yang bagus dan detail. Saat ini  para ahli lebih merekomendasikan pemakaian dari water based contrast medium, karena lebih toleran terhadap tubuh manusia dan dengan cepat  teresorbsi di jaringan.
(Ozdemir, et.all, 2004)
Sialografi adalah investigasi radiografi rutin yang melibatkan kanulasi dari saluran kelenjar ludah melalui lingkungan oral. Prosedur ini memungkinkan adanya bacteremia  yang timbul dari organisme komensal di rongga mulut atau dari bakteria yang berkolonisasi di saluran kelenjar ludah yang abnormal. Organisme yang biasanya ditemukan di kelenjar ludah yang terinfeksi adalah Staphylococcus aureus. Organisme bakteri lainnya antara lain Streptococci, Haemophilus influenzae, dan Escherichia coli. Oleh sebab itu, profilaksis antibiotik direkomendasikan diberikan untuk seluruh prosedur dental yang melibatkan manipulasi dento-gingival kepada pasien yang memiliki infeksi endocarditis, namun pada sialografi hal tersebut tidak dibutuhkan karena sialografi bukan merupakan prosedur dental yang melibatkan manipulasi dento-gingival walaupun pada proses kanulasi memungkinkan adanya bacteremia (Nixon, et.all, 2008).





2.5  Magnetic Resonance (MR)
2.5.1.   Pengertian MR Sialografi
Magnetic resonance imaging merupakan suatu teknik pencitraan gambaran radiografi dengan menggunakan radiasi nonpengion dari radiofrekuensi yang diperoleh dari spektrum elektromagnetik (White and Pharoah, 2004).
2.5.2.   Prinsip Penggunaan MR Sialografi
Prinsip dari MR adalah pasien ditempatkan ke dalam sebuah magnet besar yang mana yang akan menginduksi medan magnet yang relative kuat dari luar. Hal tersebut menyebabkan energi dihasilkan dari tubuh kemudian terdeteksi, dan digunakan untuk mengkonstruksi gambaran MR pada komputer. Sensitivitas kontras yang tinggi dari MR ditentukan oleh perbedaan jaringan dan ada atau tidaknya paparan radiasi nonpengion tersebut (White and Pharoah, 2004).
2.5.3.   Indikasi, Keuntungan, dan Kerugian MR Sialografi
Indikasi :
1.   Pembengkakan atau benjolan yang mempunyai ciri-ciri tersendiri baik intrinsik dan ekstrinsik ke kelenjar ludah
2.   Pembengkakan umum, contohnya Sjogren’s Syndrome.
Keuntungan :
1.   Radiasi pengion tidak digunakan.
2.   Memberikan detail jaringan lunak yang sangat baik dan memungkinkan diferensiasi yang lebih mudah antara normal dan abnormal.
3.   Memberikan gambaran lokalisasi akurat dan mungkin dapat digunakan untuk membedakan tumor jinak dari tumor ganas.
4.   Dapat mengidentifikasi nervus facialis.
5.   Gambaran dapat tersedia dari berbagai bidang.
6.   Co-localization possible dengan scan PET.
7.   MR sialografi dapat dilakukan bersama dengan MR spectroscopy.
8.   Cairan pada saluran dan kelenjar saliva dapat tervisualisasi dengan MR sialografi tanpa menggunakan contrast agent.
9.   MR spectroscopy dapat dilakukan untuk membedakan perbedaan jaringan berdasarkan kandungan kimiawinya.
Kerugian:
1.   Tidak memberikan informasi mengenai fungsi glandula saliva.
2.   Informasi yang terbatas mengenai jaringan keras sekitar.
(Whaites, 2003)



























BAB III
PEMBAHASAN


3.1  Perbedaan Sialografi Konvensional dengan MR Sialografi
Perbedaan Sialografi Konvensional dengan MR Sialografi:
Konvensional sialografi:
1.         Untuk mengetahui keabnormalitasan glandula saliva
2.         Orifice didilatasi dengan probes, kemudian dimasukkan kanula yang diberi suatu zat kontras ke dalam duktus
3.         Murah dan mudah didapat
4.         Kurang sensitif dan resolusi rendah
5.         Memiliki akurasi yang rendah daripada MR
6.         Komplikasi sialografi: alergi (tetapi jarang) dan tidak nyaman pada pasien
(Johnson and Bailey, 2006)
7.         Untuk menghitung lokasi akurat dari lesi glandula saliva dan untuk membedakan lesi tersebut dari tumor parafaringeal
8.         Untuk mengidentifikasi neoplastik dari inflamasi dan proses patologi
9.         Untuk mengidentifikasi neoplasma yang benigna atau maligna
10.     Panoramik sangat cocok untuk melihat adanya caliculi pada glandula submandibula dan parotis
11.     Film oklusal cocok untuk melihat adanya kalkuli di dalam submandibula dan batu pada glandula parotis
12.     Berperan untuk mengevaluasi penyakit pada duktus, sialosis, inflamasi kronik pada glandula saliva, kalikuli yang tidak terklasifikasi, tetapi sialografi tidak untuk tumor dan masses.
13.     Media kontras water soluble tidak menghasilkan gambar duktus saliva sebaik media kontras oil.
14.     Kontra indikasi sialografi: pasien dengan infeksi akut karena inflamasi dan pasien dengan alergi media kontras.
(Becker, et al, 2005)
MR Sialografi:
1.      Tekniknya tergantung pada kepadatan proton di jaringan
2.      Tidak menggunakan media kontras tapi jika diperlukan menggunakan media kontras melalui intravena untuk membedakan masa solid dan kista
3.      Lebih sensitif dan resolusinya lebih tinggi sehingga gambar radiografi lebih tajam dibanding konvensional sialografi.
4.      Penambahan kontras tidak menambah nilai informasi dan biasanya tidak diberikan.
5.      Media kontras pada teknik ini yang biasanya digunakan adalah gadolinium (untuk kasus tumor ekstra glandula).
(Johnson and Bailey, 2006)
6.      Ion radiasi terhadap pasien lebih rendah (menggunakan radiasi nonionisasi).
7.      Kelebihan: dapat digunakan pada pasien dengan akut inflamasi dan alergi media kontras seperti iodin.
8.      Kelemahan: distorsi untuk pasien yang memakai tumpatan amalgam, karena akan mengganggu visualisasi lokasi dari kalikuli atau batu yang berada di dekat dengan orifice duktus glandula saliva.
(Becker, et al, 2005)
9.      Memberikan gambaran yang lebih baik datipada CT baik pada batas masa pada glandula saliva, struktur dalam glandula maupun pelebaran lesi.
10.  Menggunakan gelombang radiofrekuensi dan magnet kuat.
11.  Menunjukkan morfologi duktus secara akurat tapi tidak bisa untuk mengidentifikasi sialolitiasis yang kecil.
(White and Pharoah, 2004)
Perbedaan Sialografi Konvensional dengan MR Sialografi juga dapat dipaparkan dalam sebuah perbandingan MR Sialografi dengan digital subtraction. Digital Substraction merupakan pencitraan (sialograf) dengan metode konvensional, yaitu membutuhkan cannulation, penggunaan media kontras, dan pemaparan radiasi sinar x.
MR sialografi dapat untuk mendiagnosa sialolithiasis dan sialodenitis. Begitu pula Digital substraction atau sialograf konvensional yang dapat digunakan untuk mendiagnosa inflamasi kronik yang menyebabkan penyempitan duktus, sialectasia, dan sialolithiasis. Namun perbedaan keduanya dapat dijelaskan melalui pemaparan kelebihan dan kekurangan Digital substraction dan MR sialografi itu sendiri.
Kelebihan dari MR sialografi adalah:
1.         Memerlukan waktu yang lebih singkat.
2.         Tidak memerlukan kanulasi dan penggunaan media kontras.
3.         Kemungkinan untuk memvisualisasikan semua kelenjar saliva mayor tanpa penempatan pasien yang rumit.
Kelemahan MR sialografi :
1.         Kontraindikasi untuk pasien yang mengidap claustrophobia.
2.         Sensitivitas dan spesifitas kurang, tergantung dari sekresi saliva.
Semakin banyak sekresi saliva, semakin jelas gambaran pada MR sialograf. Digunakan Lemon untuk menstimulasi sekresi saliva.





Kelemahan digital substraction (konvensional):
1.         Pemaparan radiasi sinar x.
2.         Perlu kanulasi dan injeksi media kontras.
Kanulasi memerlukan skill yang tinggi, sehingga kegagalan yang sering terjadi pada teknik konvensional disebabkan karena sulitnya mendeteksi duktus kelenjar saliva. Media kontras memiliki banyak adverse effect. Kelebihan injeksi media kontras dapat menyebabkan rasa sakit dan merusak struktur parenkimal.
Walaupun spesifitas dan sensitivitas MR sialografi dibawah Digital substraction, namun dalam mendiagnosa, MR sialografi tidak kalah dengan digital substraction. Karena MR sialografi merpakan teknik yang lebih praktis dari digital substraction, maka MR sialografi menjadi alternatif teknik yang menjadi pilihan.
(Kalinowski, et al., 2002)

3.2  Modifikasi MR Sialografi
3.2.1.         Diffusion-Weighted MR Imaging Comparison of 1.5 T and 3 T
Merupakan suatu modifikasi MR Imaging dengan menggunakan prinsip diffusion-weighted imaging (DWI). DWI sensitif terhadap visualisasi pergerakan acak dari molekul-molekul yang menimbulkan fase yang tidak koheren untuk menghasilkan intensitas sinyal. Kenampakan difusi yang dihasilkan dalam MR akan divisualisasikan melalui ADC (Apparent Diffusion Coefficient). Melalui pengukuran nilai ADC maka aktivitas glandula saliva dapat diketahui apakah dalam kondisi fisiologis ataukah pada kondisi patologis.
Modifikasi MR dalam hal ini juga dititikberatkan pada DWI MR yang membandingkan 1,5T dengan yang menggunakan 3T. Dalam modifikasi tersebut, gambaran yang dihasilkan adalah perubahan saliva pada glandula parotid kanan, glandula parotid kiri, maupun keduanya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa DWI-EPI akan divisualisasikan melalui ADC dengan rumus nilai ADC:
ADC = [ln (SI1/SI2)] / (b2-b1), dimana : S = intensitas sinyal, b = faktor gradien
Dari nilai ADC akan tampak sebuah peta ADC yang menggambarkan aktivitas glandula saliva. Dari ADC tersebut dapat diketahui perbedaan intensitas dari DWI MR 1,5T dan 3T. Pada contoh kasus yang diteliti, meneliti gambaran glandula parotid sebelum dan setelah stimulasi lemon juice. Lemon juice berfungsi sebagai stimulan saliva yang diberikan secara oral kemudian didiamkan di dalam mulut selama 10 detik kemudian baru ditelan. 3 detik kemudian dilakukan pengambilan gambar dengan modifikasi MR tersebut. Stimulasi dengan lemon juice juga berpengaruh dalam meningkatkan visualisasi aktivitas glandula parotid. Hasil dari perbandingan glandula parotid kanan, glandula parotid kiri, dan keduanya menggunakan baik DWI MR 1,5T dan 3T, dianalisa dengan student t-test.
Hasil menunjukkan bahwa DW-EPI menunjukkan glandula parotid seluruh probandus secara sempurna. Setelah stimulasi oral diperoleh peningkatan nilai median dari ADC untuk masing-masing pengukuran dan kedua kekuatan (1,5T dan 3T). Nilai ADC yang diperoleh dengan 1,5T dan 3T sebelum dan setelah stimulasi untuk glandula parotid menunjukkan korelasi yang tinggi.
Hasil nilai ADC dari DWI MR 1,5T dan 3T tersebut juga tidak jauh berbeda sehingga dapat dinyatakan bahwa DWI MR 1,5T dan 3T tidak jauh berbeda dari segi kualitas dalam memvisualisasikan aktivitas glandula parotid. Oleh sebab itu, DWI MR 1,5T dapat lebih bisa diaplikasikan ke pasien karena radiasi magnetik yang ditimbulkan relatif lebih kecil. Dari hasil penjabaran tersebut dapat diambil garis besar dari modifikasi MR dengan DWI bahwa DW-EPI memberikan data yg lebih tepat dalam memantau perubahan fungsi glandula saliva yang disebabkan karena terapi radiasi.
 (Haberman, et al., 2007)
3.2.2        Diagnostic Accuracy of MR Sialografi with a Three-dimensional Extended-Phase Conjugate-Symmetry Rapid Spin-Echo Sequence
3D express merupakan modifikasi MR sialografi menggunakan 2T dengan pemaparan sinar yang cepat dan tepat dilengkapi dengan analisis per seperempat target. Analisis seperempat bagian tersebut akan memberikan gambaran 3 dimensi.
3D express juga mempunyai waktu pemaparan yang lebih singkat. Dengan waktu pengulangan pemaparan 6.000-10.000 msec dan lamanya pemaparan (echo time) 190 msec. Gambaran akhir yang diperoleh berukuran 16cm x 16cm dengan gambaran 256 × 256 pixels. Dengan pengirisan lapisan setebal 0.6–1.5 mm.
Gambar 1A
Pada gambar terlihat adanya batu glandula di dekat pintu masuk dari ductus warton (panah yang pendek). Ductus bartholin ditunjukkan oleh panah yang bengkok. Cabang pertama ditunjukkan dengan kepala panah yang besar. Cabang kedua ditunjukkan dengan anak panah yang kecil. Terlihat sekresi saliva berlebih dalam rongga mulut (ditunjukkan oleh panah yang panjang dan kurus).
Gambar 1B
Gambar diambil dari wanita berusia 39 tahun dengan pembengkakan glandula submandibular saat mastikasi. Adanya batu pada glandula saliva ditunjukkan dengan anak panah yang menunjukkan adanya dilatasi duktus Wharton dan sialodochitis (pembengkakan) ditunjukkan dengan panah lurus.
Melalui MR sialografi 3D express ini batu-batu kecil dapat terdeteksi dan visualisasi dari gambaran anatomi secara keseluruhan lebih baik.
(Becker, et al., 2000)
3.2.3        Sialogogue dan  Ductal Occlusion MR Sialografi
MR Sialografi umumnya menggunakan teknik proyeksi penimbangan berat T2 dengan mengandalkan saliva untuk menimbulkan gambaran kontras dan visualisasi duktus tetapi gambarannya terbatas. Keterbatasan tersebut membawa pada sebuah modifikasi dengan menggunakan sialogogue dan ductal occlusion. Metode modifikasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan volume saliva intraduktal untuk meningkatkan visualisasi duktus.
Maksud dari modifikasi dengan Sialogogue yaitu dengan cara penambahan asam seperti asam sitrat dan jus lemon untuk memicu produksi saliva dengan tujuan volume saliva akan lebih tinggi sehingga visualisasi kondisi ductus salivarius dapat lebih jelas. Kemudian modifikasi tersebut dikombinasikan dengan occlusion pack intra oral (terbuat dari kain kasa yang dilipat sebesar 3 cm) yang ditempatkan diantara gigi atas dengan orifisium duktus parotis. Setelah kain kasa ini ditempatkan, volunteer diinstruksikan untuk segera mengunyah lemon dan diposisikan pada magnet bore. Pemeriksaan sialografi kemudian dilakukan dengan 1.5 T whole body MR system (GEHT, Excite, Milwaukee, WI). Dengan dukungan Gradient echo localizer untuk mengidentifikasi posisi glandula parotis dan mandibula. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa visualisasi duktus meningkat terutama dari sisi kekontrasan karena jumlah saliva intraduktal bertambah akibat peningkatkan produksi saliva intraglandular.

Modifikasi ini dapat pula untuk mendeteksi adanya sumbatan yang berhubungan dengan kalkulus dan sialectasis. Meskipun begitu, resolusi gambar dan pencitraan perubahan pada duktus cabang yang dihasilkan masih terbatas dibandingkan dengan teknik sinar X. Hal tersebut dipengaruhi oleh signal-to-noise-ratio (SNR) pada teknik modifikasi  ini rendah dibandingkan pada sinar X. Hasilnya akhir dari modifikasi ini adalah adanya peningkatan visualisasi pada duktus primer dan  mengarah pada peningkatan visualisasi pada duktus sekunder dan tersier.
(Hugill, et al., 2008)
3.2.4        MR Sialografi dalam Mengevaluasi  Kelenjar Saliva sebagai Efek Radiasi
Modifikasi dari MR Sialografi dalam hal ini adalah sebagai salah satu alat detector efek radiasi terapi misalnya pada penderita tumor atau kanker. Salah satu contoh kasusnya adalah xerostomia sebagai efek dari terapi radiasi dari malignansi kepala dan leher.
Malignansi kepala dan leher yang diterapi dengan terapi irradiation dapat menimbulkan komplikasi. Komplikasi yang terjadi adalah radiation induced xerostomia akibat dari hipofungsi atau injuri glandula saliva sehingga secrete saliva yang keluar relatif lebih sedikit.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa radiation induced xerostomia dapat dievaluasi dengan salah satunya adalah MR sialografi. Dengan teknik ini, dapat memvisualisasikan glandula saliva yang hipofungsi dengan memberi informasi morfologi glandula yang detail, dan bisa untuk diagnosis penyakit sialolithiasis dan sjorgen syndrome.
Informasi morfologi pada MR sialografi, diklasifikasikan dalam 3 macam:
1.   Good: gambaran nyata pada kedua duktus utama, begitu juga cabangnya
2.   Fair: gambaran nyata dari duktus utama atau cabangnya
3.   Poor: gambaran tidak nyata dari duktus utama maupun cabangnya

MR sialografi menggambarkan duktus utama dan cabang dari glandula parotis dan submandibular. MR sialografi memberikan visualisasi yang berbeda diantara keduanya, yakni:
-                Pada glandula parotis: respon terhadap stimulasi asam tartaric yang diberikan untuk merangsang keluarnya saliva, lebih baik sehingga hal ini menimbulkan gambaran radiograf yang lebih jelas dan kontras.
-                Pada glandula submandibula: gambaran yang kurang kontras pada duktus utama dan cabangnya karena terdapat respon yang lemah terhadap stimulasi asam. Terutama pada pasien dengan severe radiation induced xerostomia. Karena, dosis yang tinggi pada saat terapi malignasi leher dan kepala, glandula yang paling terkena dampaknya adalah glandula submandibula sehingga ketika di-MR sialografi menimbulkan visualisasi yang kurang baik.







(Wada, et.all, 2008)
BAB IV
PENUTUP
4.1.Kesimpulan
1.      MR sialografi merupakan teknik sialografi yang lebih praktis dibandingkan dengan sialografi konvensional.
2.      Modifikasi sialografi MR dengan three-dimensional extended-Phase conjugate-symmetry rapid spin-echo sequence merupakan modifikasi yang memberikan hasil gambaran paling baik.

4.2.   Saran
1.      Efek-efek yang dapat membahayakan kesehatan pasien hendaknya menjadi salah satu pertimbangan utama pemilihan teknik sialografi yang akan digunakan. 
2.      Pemilihan modifikasi sialografi MR yang akan digunakan hendaknya disesuaikan baik dengan kasus yang dihadapi maupun kondisi pasien agar mendapakan kualitas gambaran yang maksimal.


















DAFTAR PUSTAKA


Becker, M., et al. 2000. Sialolithiasis and Salivary Ductal Stenosis: Diagnostic Accuracy of MR Sialografi with a Three-dimensional Extended-Phase Conjugate-Symmetry Rapid Spin-Echo Sequence. Journal of Radiology. 217(2):347-58.
Becker, et al. 2005. Imaging of the head and neck. Second edition. George Thieme Verlag: Stuttgart.
Haberman, C.R., et al. 2007. Monitoring of Gustatory Stimulation of Salivary Glands by Diffusion-Weighted MR Imaging : Comparison of 1.5 T and 3T.  American Journal Neuroradiology (28) : 1547-51.
Hugill, J., et al..2008. MR Sialografi : the effect of a sialogogue and ductal occlusion in volunteers. The British Journal of Radiology (81) : 583-86.
Johnson, T. J dan Bailey, J. B. 2006. Head and Neck Surgery: Otolaringology, fourth edition. Lippincott Williams & Wilkins: Philadelpia.
Kalinowski, M., et al. 2002. Comparative Study of MR Sialografi and Digital Subtraction Sialografi for Benign Salivary Gland Disorders. American Journal Neuroradiology (23) : 1485–92.
Nixon, P.P., et al. 2008. Does sialografi require antibiotic prophylaxis? The British Journal of Radiology (10) : 1-3.
Ozdemir, D., et al. 2004. Lipiodol UF retention in dental sialografi. The British Journal of Radiology (77) : 1040-1.
Wada, A., et al. 2008. Radiation-Induced Xerostomia: Objective Evaluation of Salivary Gland Injury Using MR Sialografi. American Journal Neuroradiology (30) : 53-8.
Whaites, E. 2003.  Essentials of Dental Radiography and Radiology, 3rd edition. Churchill Livingstone : London.
White, S.C. and Pharaoh, M.J. 2004. Oral Radiology: principles and interpretation, fifth edition. Mosby : Missouri.

0 komeng:

Posting Komentar